Tuesday, August 16, 2016

Nasionalisme Menjelang Petang Hari










15 Agustus 2016. Berselang dua hari sebelum hingar-bingar karnaval ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-71, seorang menteri secara terhormat, diberhentikan Presiden dari jabatannya. Pencopotan itu terselenggara lantaran status kewarganegaraan asing yang melekat pada menteri bersangkutan. Bila dihitung dari waktu pelantikan hingga waktu pemberhentian, maka umur jabatan menteri muda itu tiada lebih dari 20 hari. Kelak, sejarah akan mencatat masa jabatan menteri paling pendek, yang tentu akan disertai dengan catatan kaki perihal seleksi anggota kabinet paling ceroboh yang pernah ada di republik tercinta ini.

       Perihal begitu gampangnya orang mengganti sidik-jari keindonesiaan, atau sedemikian mengentalnya mentalitas inferior “menjadi-indonesia” hingga semakin banyaklah orang yang memasang niat untuk mencampakkan baju keindonesiaan dengan rupa-rupa dalih dan alasan, lamat-lamat saya teringat kolom lawas yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu, tentang upaya gigih seorang putra tulen Indonesia yang terbuang bertahun-tahun di negeri orang, guna mendapatkan kembali pengakuan negara bagi status kewarganegaraannya.            

           Saya sebut saja namanya Sobron Aidit  (1934-2007).  Sejak 1964,  Sobron  bekerja sebagai pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing, di samping berkhidmat sebagai wartawan di Peking Review. Tak berselang lama sejak ia berdomisili di Beijing, tersiar kabar tentang tewasnya Bang Amat─begitu Sobron memanggil kakaknya, DN.  Aidit─setelah dibunuh tentara di Boyolali, Jawa Tengah. Karena sedang berada di Beijing, Sobron dan keluarga, serta ratusan orang Indonesia lainnya, selamat dari penumpasan rejim Orba. Mereka terpaksa bermukim di Tiongkok sambil terus berharap bisa pulang ke tanah air suatu saat kelak. Namun, harapan itu tak pernah kesampaian, pemerintahan Orde Baru terus-menerus memupuk dendam-kusumat pada kaum kiri. Akhirnya, Sobron Aidit menggelandang di negeri orang. Delapan  belas tahun di Tiongkok (sekarang RRC), dua puluh satu tahun di Paris, Prancis.

        Pada 1982, Sobron bersama  Umar Said, JJ.Kusni, Ibbaruri (putri D.N Aidit) dan kawan-kawan sesama eksil lainnya mendirikan sebuah  restoran Indonesia di  Rue de Vaugirard, jantung kota Paris. Apa yang sebenarnya hendak dicari Sobron? Selain untuk bertahan hidup, restoran itu menjadi saksi bahwa kaum eksil tak sungguh-sungguh merasa terasing dari tanah air mereka, Indonesia. Di restoran itu mereka sajikan aneka masakan khas Indonesia, mulai dari Nasi Rawon, Gudeg Jogja, hingga Rendang Padang, seolah-olah mereka tak sedang berada di negeri orang.  Banyak aral melintang yang menghadang Sobron selepas mendirikan restoran itu. KBRI Prancis bahkan mengeluarkan maklumat larangan berkunjung ke restoran milik orang-orang kiri itu, meski tak banyak yang mematuhinya. ”Masa’ makan di restoran saja dilarang?” begitu tanya Sobron dalam buku Melawan dengan Restoran (2007) yang ia tulis bersama Budi Kurniawan.

          Pertentangan ideologis masa lalu telah membuat hidup Sobron Aidit selalu berada di bawah tekanan dan ancaman, bahkan dalam urusan restoran yang tujuannya hanya untuk menyediakan lapangan kerja bagi kaum eksil pun dihubungkaitkan dengan perkara ideologi. Tapi, begitulah Sobron. Bila memang lewat restoran itu ia berpeluang melawan, tiada bakal ia sia-siakan peluang itu. Sobron akan terus melawan, meski hanya lewat restoran. Nasib dan peruntungan kaum eksil yang terkatung-katung selama berbilang tahun di negeri orang harus diperjuangkan. Lewat menu makanan, Sobron mengibarkan semangat keindonesiaan di restoran yang kelak menjadi tempat berkumpul mengasyikkan bagi para pejabat tanah air saat melancong ke Paris. Tak kurang-kurang, mantan presiden, Gus Dur berkali-kali  singgah di sana. 

           Meski jauh, tapi hampir setiap hari tulisan-tulisan Sobron (puisi, cerpen, kolom, esai, catatan-catatan perjalanan) dapat dijumpai di berbagai mailing-list. Ia berdiskusi, berpolemik, bahkan tak jarang berdebat sengit dengan kawan-kawan penulis muda tanah air. Sobron seorang maniak-diskusi, meski usianya sudah renta. Ia tak pernah abai pada kritik dan tanggapan kawan-kawan sesama anggota mailing list terhadap tulisan-tulisannya. Selalu dibalas, dan balasan itu jauh lebih  panjang dari esainya yang sedang jadi pusat perhatian. Dalam sehari, tak kurang dari tiga sampai empat tulisan ia kirimkan ke sejumlah mailing list. Rata-rata panjang tulisan itu lebih dari delapan halaman dengan format 1,5 spasi. Sebuah gambaran tentang energi kreatif yang  tiada pernah sumbing meski usianya waktu itu sudah berkepala tujuh. Dapat dibayangkan betapa sabar dan tekunnya ia duduk berlama-lama di depan komputer. Beberapa hari sebelum Sobron Aidit meninggal dunia pada 10 Februari 2007 lalu, seperti diceritakan salah seorang anaknya, beliau terpeleset dan jatuh di sebuah stasiun bawah tanah di Paris saat mencari layanan internet. Lagi-lagi untuk urusan berkomunikasi dengan kawan-kawan muda di dunia maya, di Indonesia. Sobron sepertinya “tidak di sana,” sebab ia sungguh “dekat di sini,” di negerinya sendiri, di Indonesia yang selalu disinggahinya, meski hanya lewat dunia maya.

        Hingga ajal datang menjemputnya, Sobron memang masih tercatat sebagai pemegang paspor Prancis, tapi Indonesia adalah tanah air ingatan yang tak akan pernah kerontang di sekujur tarikh hidupnya. Inilah barangkali bedanya Sobron dengan anak-anak muda yang belakangan tak segan-segan membuang baju kebangsaan mereka demi macam-macam pencapaian individual yang tak perlu saya uraikan di sini. Ada yang habis-habisan berikhtiar untuk mendapatkan kembali napas keindonesiaan yang menguap dari tubuhnya. Tapi, ada pula yang begitu jumawa menjadi malin kundang, lalu menutup semua pintu ingatan bagi rahim bernama Indonesia, yang melahirkannya. Dirgahayu bangsaku. Panjang umur juga hendaknya bangsa yang tak henti-henti dikhianati oleh anak-anak kandungnya sendiri...

@damhurimuhammad




1 comment: