Thursday, August 11, 2016

Harga Kopiah Haji

Saya sebut saja namanya Haji Fulan. Sudah berkali-kali ia berkilah dan berkelit untuk tidak menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal, undangan terus saja berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Fulan, tokoh masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan mengemukakan alasan kenapa ia keberatan menghadiri undangan dari sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya Haji Fulan buka mulut juga. Dan, ternyata pasalnya sepele. Hampir di setiap surat undangan yang diterima Haji Fulan, para “sohibul-hajat” tidak mencantumkan huruf “H” sebelum namanya. Jadi, yang tertera hanya “Fulan,” bukan “H. Fulan.” Ia merasa kurang dihargai—bila tidak bisa disebut dirugikan—sebagai orang yang telah bersusah-payah mengumpulkan biaya guna menjejakkan kaki di tanah suci. “Kopiah putih di atas kepalaku ini sangat mahal harganya,” begitu Haji Fulan menggerutu pada Maemunah, istrinya. 


Kisah kecil ini rasanya kerap muncul dalam keseharian kita. Haji Fulan hanyalah satu dari sekian banyak oknum haji yang pernah mengalami ketersinggungan serupa. Ritual haji tak ubahnya upacara pembaiatan derajat keberagamaan sebuah keluarga, sebuah silsilah, sebuah klan. Status kehajian nyaris bergeser dari kepasrahan akan ridha Tuhan menjadi sayembara meraih harkat keberibadahan yang pantas disanjung, dipuja-puji. Beribadah hanya karena ibadah itu adalah semacam warisan turun-temurun. Menyembah bukan semata-mata karena mesti menyembah. Menyembah karena akan meraih berkah-Nya. Berserah diri karena diam-diam begitu berhasrat hendak “menjarah” rejeki-Nya.

           









Problematika derajat kehajian semacam inilah yang menjadi perbincangan utama novel Ular Keempat (2006) karya Gus Tf Sakai. Semula novel itu tampak hendak membincang fakta sejarah perihal kisruh penyelenggaraan perjalanan haji (1970) yang dianggap melanggar prosedur, sekaligus memberi gambaran samar tentang sejarah mula-mula penyelenggaraan ibadah haji di bawah kendali (monopoli?) sebuah departemen di republik ini. Tapi, ternyata latar cerita itu hanyalah medium bagi eksplorasi makna kehajian lebih dalam. Maka, hadirlah karakter bernama Janir, tokoh paling penting dalam buku itu. Seorang pengusaha rumah makan asal Padang yang sukses di perantauan. Juragan yang membawahi banyak anak semang. Sosok kehajian Janir tiba-tiba berubah menjadi problematis, sebab tak tegak pada landasan iman yang matang, tidak berdiri di atas keikhlasan yang tanak dan teruji. Meski telah menunaikan rukun Islam kelima itu untuk kali yang kedua, predikat kehajian Janir tetap menyisakan banyak tanya. Kegelisahan teologis yang melandanya seumpama belitan ular yang sewaktu-waktu bakal “mencotok” atau menancapkan bisa di tubuhnya.

             
Dalam situasi kejiwaan yang rapuh itu, Janir beroleh semacam “ilham” dari guru Muqri yang dijumpainya di tanah suci. Tak jelas siapa sesungguhnya orang itu, boleh jadi ia benar-benar nyata atau halusinasi Janir belaka. Diceritakan, guru Muqri pernah berjanji pada kehajian Janir yang pertama, bila ia masih terpanggil berhaji pada kali kedua, guru Muqri akan memberinya tiga cerita, tiga kisah, tiga riwayat. Maka, janji itu pun ditepati. Kisah pertama bertutur tentang perburuan para hamba mengejar syafa’at malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan, alias lailatul qadar. Berhari-hari, berminggu-minggu mereka berpacu. Berburu. Serupa kesetanan, seperti kesurupan. Tak pernah mereka singgah. Ada halte ada stasiun, tetapi mereka terus. Ada kehidupan dan kematian, tetapi mereka ngebut di kesendirian. Berlomba. Saling mendahului. Beribadah demi sorga mereka sendiri. Inilah dia Ular Pertama; egoisme. Gigitannya tak merusak raga, tak pula menyakitkan, tapi kebuasannya dapat mencabik-cabik jiwa, melunturkan keikhlasan. Setan yang nyata. Mungkinkah iman tumbuh di atas watak egoistik yang meluap-luap?

            

Saat wukuf di Arafah, Janir beroleh “wahyu” selanjutnya. Dua kisah lagi sesuai janji guru Muqri. Kisah ini menyindir laku peribadatan orang-orang kampung Janir, yang tak lebih karena keturunan mereka melakukannya. Itupun hanya untuk menggapai kehajian yang bakal dibanggakan, dipamerkan di setiap kesempatan. Pembeda antara yang sudah bersorban, berkopiah putih dengan yang masih berpeci hitam tanpa sorban, sebagaimana kisah Haji Fulan di atas.  Janir teringat masa kecil di kampung dulu. Ada debar pengajian, getar tadarrus, beningnya suara azan buya Daruwih. Seolah-olah kenangan itu yang mendorongnya berhaji. Ya Allah, betulkah kenyataan ini: aku berhaji karena kenangan? Dalam kenangan itu terselip kebanggaan? Inilah Ular Kedua: kebanggaan, riya, sum’ah, takabbur.Gigitannya tak menghancurkan daging, tapi membinasakan keberpasrahan. Setan besar. Lebih besar ukurannya dari Jumratul Aqabah, Wustha, dan Ula.

Kisah terakhir yang diperoleh Janir berisi semacam prediksi futuristik tentang silang-sengketa, pertikaian antarkelompok dalam memperebutkan kekuasaan. Ini terasa mencengangkan. Guru Muqri terlihat amat paham khazanah Tambo. Seakan-akan riwayat itu bukan berasal dari guru Muqri, tapi dari perenungan batin Janir sendiri. Dalam salah satu versi Kaba (sastra lisan Minangkabau) ditemukan cerita mengenai seluk-beluk permainan layang-layang. Anehnya, cerita layang-layang itu tak termaktub pada bab tentang permainan rakyat, tapi ditempatkan pada bab kepemimpinan. Apa hubungan layang-layang dengan masalah kepemimpinan? Negara diamsalkan serupa layang-layang putus-tali di ketinggian tertentu, lalu orang-orang berhamburan mengejarnya dengan kayu galah di genggaman masing-masing. Sebelum layang-layang itu jatuh menyentuh tanah, kayu-kayu galah lantas menghadang. Menusuk, merenggut, seolah-olah setiap orang berhak atas layang-layang itu. Mereka tak beroleh apa-apa selain bangkai layang-layang. Patah-patah, remuk, hancur, cerai-berai. Begitulah negara. Semua orang merasa berhak memilikinya. Bila satu kelompok gagal, kelompok lain juga tak boleh memiliki. Inilah Ular Ketiga: rakus, tamak, lalim. 

Maka, bila para hamba Tuhan yang lain meraih kemabruran dari tanah suci, Janir justru beroleh cenderamata; tiga ekor ular dari guru Muqri. Sesampai di tanah air, ia beroleh seekor ular lagi. Gus Tf Sakai menyebutnya Ular Keempat. Janir pun memasang niat akan berhaji lagi tahun depan, menjejakkan kaki di tanah suci lagi. Ia tak peduli anak-anak semang, tetangga-tetangga melarat, para fakir miskin dan dhuafa. Janir benar-benar sudah “ketagihan” digigit ular, dan  hendak menjemput gigitan Ular Kelima, Keenam, Ketujuh 

@damhurimuhammad    


6 comments:

  1. kolom ringan tapi berat isinya ,dulu ada haji sumanik,haji miskin dan haji piobang yang 'ditakuti' setelah pulang haji..kenapa alumni baitullah skrg sepertinya biasa2 saja..? seperti juga gelar2 kesarjanaan yg juga biasa2 saja..menarik utk direnungkan..

    ReplyDelete
  2. kolom ringan tapi berat isinya ,dulu ada haji sumanik,haji miskin dan haji piobang yang 'ditakuti' setelah pulang haji..kenapa alumni baitullah skrg sepertinya biasa2 saja..? seperti juga gelar2 kesarjanaan yg juga biasa2 saja..menarik utk direnungkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha, terimakasih sudah berkunjung, Pak Dokter

      Delete
    2. Aha, terimakasih sudah berkunjung, Pak Dokter

      Delete